Kenapa Blog?
Why a Blog?
Blog ini adalah upaya untuk merebut kembali ruang privat di tengah arus informasi yang riuh. Saya memilih membangun rumah sendiri di jagat web ini agar setiap catatan tidak lebur dan hilang, melainkan terdokumentasi dengan baik. Di sini, saya menolak berkompetisi dengan algoritma. Fokus saya bukan pada seberapa luas tulisan ini tersebar, melainkan pada keutuhan pemikiran yang tidak tunduk pada kurasi mesin.
This blog is an effort to reclaim personal space amid the flood of information. I’ve built my own home in this digital world so that every entry isn’t lost or washed away, but faithfully documented. Here, I don’t have to compete with algorithms. My focus isn’t on how widely these writings are shared, but on the integrity of thoughts that aren’t subject to machine curation.
Tentang Saya
About Me
Halo, saya Nurul (dia/dia). Akar saya tertanam di Bitung, Sulawesi Utara, namun hari-hari saya kini meluruh di Tangerang Selatan, Banten. Saya seorang peneliti partikelir dengan tujuan yang sederhana saja: menelaah mengapa kebijakan-kebijakan, yang tampak rapi dan tanpa cela dalam cetak biru pembuat kebijakan, mendadak retak dan terbata-bata begitu ia menyentuh tanah di penjuru negeri. Saya menamai blog ini Perkara Periferal. Sebab di sana, di wilayah periferal itu, saya menemukan gesekan abadi antara sistem yang pongah dengan realitas lokal yang beragam.
Hi, I'm Nurul (she/her). I'm originally from Bitung, Sulawesi Utara and now based in Tangerang Selatan, Banten. I’m an independent researcher with a simple goal: understanding why policies that appear seamless at the point of design often fracture once they reach the rest of the country. I call this blog Perkara Periferal because my interest lies in the friction that occurs when centralized systems encounter diverse, local realities.
Kebijakan publik sering kali tampak utuh dan koheren saat masih berupa rancangan di lembaga-lembaga nasional. Namun, ketika ia bergerak keluar, pelaksanaannya lalu sungsang. Aturan harus diperas lewat tafsir, prosedur dipaksa menyesuaikan diri, dan praktik-praktik liyan yang tak pernah ada dalam rencana awal lalu muncul. Itu adalah siasat paling dasar agar kebijakan yang kaku bisa tetap bekerja di atas realitas yang liat. Di sini, periferal bukan sekadar perkara jarak tempuh dari pusat-pusat kekuasaan. Ia adalah sebuah kondisi struktural, sebuah ruang di mana komunitas, lembaga, atau kelompok sosial terlempar dari radar utama sistem yang terpusat. Dalam titik buta ini, kenyataan-kenyataan lokal sering kali gagal terbaca oleh kategori dan alat administratif yang kaku. Akibatnya, kebijakan dirancang di atas asumsi yang tak pernah benar-benar menyentuh medan yang nyata.
Many policies appear coherent when designed within national institutions. Yet as they move outward, their implementation often becomes far more complicated. Rules must be interpreted, procedures adjusted, and sometimes entirely new practices emerge simply to make policy workable. Here, peripheral does not refer only to geographic distance from political centers. It describes a broader structural condition in which communities, institutions, or social groups fall outside the primary field of visibility of centralized governance systems. In such situations, local realities are often poorly represented in the assumptions, categories, and administrative tools used to design policy.
Blog ini adalah upaya untuk menelusuri persinggungan-persinggungan itu. Alih-alih memandang implementasi kebijakan sebagai sekadar kepatuhan buta terhadap aturan, saya memilih melihat bagaimana para aktor di periferal bekerja, menafsirkan ulang, menyesuaikan, atau bahkan sengaja mengabaikan instruksi pusat. Di sana, di tempat-tempat yang gagal dijangkau oleh sistem formal, muncul praktik-praktik informal dan bentuk-bentuk tata kelola lokal yang liat. Inilah siasat-siasat nyata yang lahir saat struktur dari atas tak lagi mampu membaca medan.
This blog examines those encounters. Rather than treating policy implementation as a straightforward execution of rules, I explore how peripheral actors interpret, adapt, or bypass centralized directives, and how informal practices and forms of vernacular governance emerge where formal systems fall short.
Hari-hari saya bergerak di antara kerja sebagai Asisten Peneliti dan upaya merawat blog ini. Ruang ini berfungsi sebagai jurnal penelitian sekaligus catatan harian pribadi, sebuah laboratorium kecil selagi saya menempuh program magister (atau barangkali menemukan jalur lain di luarnya). Saya sengaja menulis sebagian besar catatan dalam bahasa Indonesia agar tetap menyentuh tanah dan berakar pada konteks lokal dengan refleksi dalam bahasa Inggris yang hadir kemudian, sekadar untuk memberi jarak dan perspektif komparatif yang lebih luas.
I balance my life and my role as a Research Assistant with the maintenance of this blog. This space serves as a personal commonplace and research log as I work toward an master degree (or perhaps find my way outside of one). Most of my notes are written in Indonesian to remain grounded in local contexts, supplemented by English reflections for a broader comparative perspective.
Meski blog ini dibuat untuk membedah minat penelitian utama saya secara mendalam, saya juga menyediakan ruang bagi hal-hal yang tampak sepele. Bagi saya, urusan-urusan remeh ini adalah siasat harian untuk tetap berdaulat, sebuah upaya untuk menjaga jarak dari narasi-narasi besar yang sering kali abai terhadap detail yang kecil dan yang nyata. Blog ini adalah wilayah yang berdaulat, sengaja saya lepaskan dari beban profil profesional. Di sini, saya merawat kebebasan untuk melakukan kesalahan, untuk tampil apa adanya, dan untuk tetap kritis. Seluruh catatan ini adalah milik pribadi, berdiri di luar garis institusi mana pun. Demi menjaga agar setiap pikiran tetap menjadi jejak manusia yang jujur, saya memilih untuk menulis semuanya sendiri, tanpa bantuan alat penulisan otomatis.
While this blog was made to dissects my primary research interests in depth, I also reserve space for the mundane. To me, these commonplace matters are daily tactics for remaining sovereign, a deliberate distance from the grand narratives that so often overlook the small and the real. This blog operates as an independent space, detached from my professional profile to ensure the freedom to be wrong, to be unpolished, and to be critical. These reflections are mine alone, existing outside the boundaries of my formal work. To ensure these notes remain a faithful record of my own thinking, I rely entirely on my own drafting and avoid automated writing tools.