Menjinakkan yang Liyan
Saya telah mencintai kucing sejak waktu yang amat lama. Jika ada yang bertanya kapan persisnya ketertarikan ini bermula, saya mungkin tak akan bisa memberi sebuah jawaban yang lurus. Ingatan adalah perkara yang jenaka, ia menyerupai lemari pakaian tua yang lapuk. Kamu merasa kamu tahu apa saja yang tersimpan di dalamnya, namun setiap kali kamu membuka pintunya, barang-barang di sana seringkali telah bergeser—sedikit menjauh dari koordinat semula.
Sebagian besar dari hasrat ini, saya kira, berhulu dari Oma. Beliau mencintai kucing dengan intensitas yang sunyi dan mutlak, sejenis keintiman yang tidak membutuhkan sebaris pun kalimat penjelasan atau pembenaran moral. Tumbuh di sekitarnya berarti tumbuh di dalam ritme ambien yang sangat spesifik.
Saya menghabiskan masa kecil menyaksikan tubuh-tubuh berbulu itu makan dari piring keramik maupun plastik, melihat mereka tumbuh dari sekadar makhluk mungil, menjadi penguasa rumah yang tetap mungil nan garang-gemas, dan menyaksikan seluruh rumpun anak kucing dilahirkan langsung di dalam kardus sisa jualan Oma. Bagi seorang anak kecil, semua itu adalah arsitektur dasar dari semesta. Saya tidak tahu bahwa sebuah rumah bisa berjalan di bawah hukum fisik atau moral yang berbeda.
Oma membesarkan kucing-kucingnya seperti sekelompok makhluk liar yang berdaulat. Beliau tidak pernah mencoba menjinakkan mereka, tidak pernah membawa tubuh-tubuh ringkih itu ke klinik untuk ditundukkan pada kompromi sterilisasi, apalagi memaksa jam biologis mereka untuk tunduk pada kisi-kisi jadwal manusia yang menjemukan. Jika seekor kucing ingin tidur selama empat belas jam di atas lemari pakaian, ia akan melakukannya. Jika ia ingin menatap dinding kosong sepanjang sore, tak ada yang akan menginterupsinya. Dan jika kucing-kucing itu memutuskan untuk beranak-pinak, Oma hanya akan menyambut rumpun kehidupan baru itu lalu merawat mereka semuanya tanpa terkecuali, seolah itu adalah konsekuensi paling alami di dunia.
Kami tinggal di sebuah tempat di mana ikan segar berlimpah. Ketika kucing-kucing itu akhirnya melenggang pulang dari petualangan entah di mana, Oma akan mengukus atau merebus ikan yang dibelinya dari pasar hingga empuk, menyuwirnya, lalu mencampurnya ke dalam semangkuk nasi putih yang hangat. Di bawah atapnya, mereka menjelma menjadi spesimen-spesimen kesehatan yang agung, dengan bulu yang berkilau pekat.
Beberapa di antara mereka tinggal selama bertahun-tahun, menjaga sudut-sudut rumah seperti sahabat lama yang lupa cara untuk pamit, sementara yang lain, pada suatu pagi, akan menyelinap melalui pintu dapur dan lenyap selamanya ke dalam lanskap luar. Namun, rumah Oma tidak pernah sedetik pun kosong. Bagi saya, semua ini adalah sejenis kebebasan yang berantakan namun tanpa beban, dan ada kedamaian yang mewah yang hanya dapat dirasakan dengan menyaksikan mereka ada sepenuhnya atas kehendak mereka sendiri.
Akan tetapi, rumah orang tua saya adalah belahan dunia yang sama sekali berbeda.
Mereka adalah orang-orang baik, teramat santun dengan cara mereka sendiri, namun mereka (setahu saya) belum pernah memelihara binatang seumur hidupnya. Bagi orangtua saya, seekor kucing mungkin bukanlah seekor binatang melainkan sebuah konsep asing, seperti sebuah artefak sibernetika kuno yang mekanismenya berputar di luar nalar, yang manualnya ditulis dalam bahasa mati yang tak pernah mereka pelajari. Berpindah di antara tempat Oma dan rumah mereka, kehangatan yang selama ini saya anggap sebagai kepastian mulai memperlihatkan retakan-retakan dinginnya.
Mama saya menoleransi kucing, namun hanya sampai batas tertentu. Setiap kali seekor kucing melakukan sesuatu yang secara kodrati mencerminkan tabiatnya, ia akan mengernyit. Baginya, insting alamiah makhluk itu adalah gangguan, sebuah interupsi kasar atas panggung domestiknya yang tak bernoda. Kenyataan biologis yang mendasar, membuatnya tampak tidak nyaman secara mendalam. Ia menuntut agar kenyataan tubuh yang berantakan itu disembunyikan jauh-jauh dari pandangan. Ia lebih suka memberi mereka makan apa saja yang menuntut usaha paling minimal, mengabaikan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh seekor karnivora sejati untuk bertahan hidup. Sesuatu hal yang bagi saya agak surealis, seolah-olah ia berekspektasi bahwa makhluk liar itu akan mendadak paham pada aturan lemari dapurnya lalu menyesuaikan diri.
Papa saya setali tiga uang. Ia memendam penolakannya di balik pembawaan yang sopan dan tenang. Karena ia selalu begitu lembut dan kerap mengabulkan permintaan saya, saya dengan naif berasumsi bahwa ia akan menyambut seekor kucing jika saya memohon di hadapannya. Saya duduk di bangku sekolah menengah atas ketika akhirnya saya mengumpulkan keberanian untuk meminta izin memelihara seekor kucing kepadanya. Ia mendengarkan dengan senyap, mungkin sambil membenarkan letak kacamata, lalu melontarkan sebuah batas absolut yang meruntuhkan seluruh harapan saya.
"Boleh saja," katanya, menatap saya. "Tapi bagaimana dengan bulu-bulunya?"
Ia memperlakukan kerontokan bulu alamiah, sebuah proses evolusi tubuh yang wajar, sebagai sebuah kekacauan misterius dan ofensif yang tidak berhak ada di dalam ruang tamunya yang higienis dan bebas debu. Pada saat itu, kalimatnya tidak serta-merta membunuh harapan saya, melainkan menumbuhkan sejenis keyakinan baru yang ganjil. Pikiran saya segera mencari celah demi bisa menyusup ke dalam dunianya yang higienis itu. Jika bulu adalah satu-satunya variabel yang ia takuti, bukankah solusinya adalah menyingkirkan bulu itu dari sana?
Saya lalu menghabiskan waktu berjam-jam di depan ponsel, mencari tahu tentang keberadaan kucing-kucing yang terlahir tanpa bulu dengan rasa ingin tahu yang menggebu. Ada rasa percaya diri yang tumbuh prematur hari itu, sebuah keyakinan bahwa saya telah menemukan kompromi yang tepat untuk melunakkan aturan di rumahnya. Namun, itu adalah usaha yang bodoh dan hampa. Seekor kucing membawa kenyataan atas tubuhnya sendiri, dan kamu tidak bisa begitu saja mencukur habis esensinya hanya agar ia muat ke dalam sebuah kotak steril yang bersih. Sifat rapuh dari toleransi ini menjelma menjadi kenyataan yang sangat benderang baru-baru ini, melalui adik perempuan saya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mengadopsi seekor anak kucing. Makhluk mungil, dengan usia masih kurang dari sebulan, yang secara harfiah jatuh dari langit-langit. Ia menyelamatkannya, membawa raga kecil itu melewati ambang pintu dan masuk ke dalam rumah Papa saya. Namun, baru beberapa bulan anak kucing itu menetap, dinding-dinding domestik itu kini mulai mendorongnya keluar.
Tadi pagi, sebuah pesan singkat dari adik saya masuk ke ponsel. Ia bertanya apakah tidak apa-apa jika ia melepaskan anak kucing itu begitu saja ke jalanan. Pada saat itu, saya tahu ia tidak sedang berniat menjadi kejam. Ia hanya sedang tenggelam, megap-megap di bawah beban keluhan-keluhan mikro yang konstan dan dingin dari Papa saya. Ia didera ketakutan bahwa jika ia tidak segera mengambil tindakan, kesabaran Papa akan mencapai batas puncaknya dan ia akan melepaskan kucing itu dimana ia tidak akan lagi mengganggunya. Dada saya terasa sepenuhnya berlubang saat membaca pesan itu. Saya segera mengenali polanya, kemudahan bersahaja dari manusia untuk melabeli sesosok makhluk hidup yang bernapas sebagai sesuatu yang terlalu merepotkan begitu ia mengusik kenyamanan rutinitas, untuk kemudian menghempaskannya.
"Kamu tidak bisa melepaskan begitu saja hewan peliharaan," ketik saya. "Kamu membuangnya."
Saya memintanya untuk bertahan, untuk melindungi kehidupan ringkih yang tidak mengerti apa-apa itu dari tuntutan rumah yang kaku. Namun saya juga memberinya sebuah jalan keluar. Saya katakan, jika situasi telah mencapai titik krisis yang absolut, bawa saja anak kucing itu ke rumah Oma. Sebab tidak peduli apa pun bahasa yang kami pilih, orang tua saya mungkin secara fundamental sepertinya tidak akan pernah sepenuhnya kapabel untuk memahami sebuah kehidupan yang berjalan di atas ketentuannya sendiri. Namun saya tahu, dengan kepastian yang mutlak, bahwa di rumah Oma, pintu akan selalu dibiarkan terbuka lebar.
Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk mengurai alasan di balik cara orang tua saya memandang kucing. Kejengkelan mereka bukanlah sebuah eksentrisitas ganjil yang berdiri sendiri. Ia adalah gejala dari sesuatu yang jauh lebih kolosal. Saya mulai menyadari bahwa gesekan di bawah atap orangtua saya sesungguhnya sama sekali bukan perkara kucing.
Dalam The Animal That Therefore I Am, Derrida membedah bagaimana selama berabad-abad kita telah menarik garis demarkasi yang tebal dan kejam antara manusia dan binatang. Manusia diklaim sebagai subjek yang tertib dan rasional, sementara binatang dijejalkan ke dalam satu laci generik sebagai yang bukan-manusia, makhluk yang dikomodifikasi murni untuk dikelola.
Ketika Mama saya menunjukkan ekspresi yang tidak mengenakkan karena aroma kotoran atau bercak kencing yang berantakan, ia sebenarnya tidak sekadar berhadapan dengan kekotoran fisik. Ia sedang bereaksi terhadap runtuhnya hukum domestik tentang pembatasan ruang. Usahanya menyodorkan selembar roti atau donat adalah contoh subtil yang paripurna dari tesis Derrida. Sebuah ekspektasi laten bahwa yang liyan harus berasimilasi sepenuhnya pada aturan-aturan administratif kita. Baginya, binatang boleh mendiami ruang bawah atap, dengan syarat kenyataan biologis tubuhnya tetap tak terlihat dan nyaman bagi manusia. Seperti sepotong perabot yang tahu diri.
Pertanyaan Papa saya, "bagaimana dengan bulu-bulunya?" menunjuk pada tapal batas yang persis sama. Kerontokan bulu adalah jejak material dari raga yang menolak dijinakkan. Ia adalah sebentuk sabotase alamiah yang menyusup ke dalam ruang hidup yang higienis dan terregulasi secara ketat. Mengingat kembali momen itu membuat saya sesak, kebaikan Papa saya ternyata memiliki batas struktural. Dan yang lebih menggetarkan ego saya adalah betapa ringkihnya saya saat itu, hampir terjebak mencari kucing tanpa bulu. Saya telah bersedia menelanjangi fitrah biologis sebuah makhluk hidup hanya demi mematuhinya pada skenario domestik manusia. Betapa ganjilnya kompromi yang sanggup kita lakukan demi sebuah penerimaan.
Donna Haraway menawarkan jalan keluar dari labirin kaku ini dalam When Species Meet. Ia melahirkan konsep “becoming-with” sebuah praktik aktif dalam berbagi ruang hidup bersama spesies lain, sepenuhnya atas ketentuan mereka sendiri. Haraway menegaskan bahwa empati sejati bukanlah sebentuk kehangatan yang pasif. Ia adalah komitmen pelik yang menuntut rasa ingin tahu dan rasa hormat yang gigih. Ia berarti menatap seekor anak kucing yang jatuh dari langit-langit, dan menyadari bahwa raga mungil itu memiliki kedaulatannya sendiri yang mutlak.
Kepanikan adik saya di hadapan gerutu konstan dari Papa adalah tanda runtuhnya sebuah ilusi. Ia menelanjangi betapa ringkihnya penerimaan yang menuntut syarat patuh. Di bawah atap yang menuntut kendali mutlak, sesosok makhluk hidup yang menolak diredam menjadi alat domestik akan selalu dipandang sebagai anomali yang harus disingkirkan. Arsitektur rumah ini tidak dirancang untuk menampung keliaran. Begitu batas kepatuhan itu dilanggar, pintu-pintu akan berderit menutup, menghempaskan kehidupan itu kembali ke dalam gelap dan berdebunya langit-langit di mana ia berasal.
Kerangka pemikiran ini, tentu saja, tidak berhenti pada binatang. Bagan biner yang sama di dalam otak digunakan untuk membelah dunia manusia tepat di tengahnya. Di satu sisi, ada mereka yang dengan mulus mementaskan kode-kode sosial yang dominan. Di sisi lain, ada yang liyan, mereka yang tubuh atau pikirannya menolak berdansa mengikuti melodi yang seragam. Ketika tatanan sosial menatap individu yang diklaim "berbeda", yang "tidak normal", yang tubuhnya bergerak atau bergetar di luar batas etiket sosial yang lazim, atau yang eksistensinya berada di luar ekspektasi yang berkuasa, tuntutan sistemisnya tetap sama—berasimilasilah, sembunyikan patahan-patahan perbedaanmu, atau hadapi pengucilan. Ancaman untuk dihempaskan keluar atau dibuat tak terlihat selalu mengintai tepat di bawah permukaan.
Derrida menyebut gejala ini sebagai kekerasan dari garis batas sang penguasa. Ego manusia menegakkan eksistensinya dengan cara menarik lingkaran ketat di sekeliling preferensinya yang rapi, lalu membiarkan hal lain di luar itu tetap berada dalam kegelapan. Di ruang tamu Papa saya, lingkaran itu ditarik di sekeliling sebuah rumah yang menolak rontok. Mekanisme yang persis sama itulah yang membuat saya menghabiskan berjam-jam masa remaja di depan ponsel demi mencari kucing tanpa bulu. Sebuah upaya naif untuk menyembunyikan kebenaran dari sebuah tubuh, hanya demi dibolehkan masuk ke dalam lingkaran penerimaan itu.
Dan ketika keluarga saya menatap episode depresi yang kerap melumpuhkan kesadaran saya, mereka sebenarnya sedang melakukan operasi yang persis sama. Mereka memang menyediakan ruang bagi saya, sebuah kamar untuk bersembunyi yang mereka berikan dengan sikap abai yang dingin, sejenis toleransi robotik yang seolah berkata, “Kamu boleh hancur di sana, asal jangan di depan mata kami.” Di dalam ruang privat yang berjarak itulah tubuh saya menolak bangkit, hari-hari kehilangan warnanya, dan pikiran saya bergerak melambat seperti jam dinding yang kehabisan baterai. Mereka menatap kenyataan mental saya yang runtuh dan tanpa skenario, lalu menuntut agar saya mementaskan melodi ceria yang tidak pelik.
Mereka mencoba menjinakkan isi kepala saya dengan cara yang sama seperti mereka ingin menjinakkan anak-anak kucing itu, dengan memperlakukan kesedihan yang pekat dan keterasingan saya sebagai sebuah kekacauan domestik yang harus segera dibersihkan. Bagi mereka, sebuah kondisi jiwa baru bisa diterima dan diakui jika ia menampilkan fungsi yang produktif, rapi, dan normal, tanpa menyisakan ruang sedikit pun bagi seseorang untuk sekadar terpuruk, berjarak dari dunia, dan ada sepenuhnya atas ketentuan luka mereka sendiri.
Donna Haraway menawarkan sebuah jalan keluar untuk menyembuhkan patahan-patahan dalam struktur yang kaku ini. Kita harus berani melangkah sepenuhnya keluar dari jebakan domestikasi. Sebaliknya, kita mesti memasuki apa yang ia sebut sebagai “contact zone” sebuah ruang antara yang berantakan dan tanpa filter, tempat kehidupan-kehidupan yang berbeda benar-benar saling bersinggungan. Ia seperti setetes minyak dan sekilas air yang terguncang di dalam cawan yang sama, mereka tidak melebur menjadi satu, namun raga mereka saling menyentuh tanpa sekat. Sebab, empati sejati bukanlah upaya untuk memaksa yang liyan agar muat ke dalam cetakan kita.
Ia adalah apa yang dilakukan oleh pasangan saya pada masa-masa ketika dunia terasa terlalu bising dan mengancam kesadaran saya. Ia tidak mencoba menyembuhkan depresi saya, tidak pula menceramahi saya tentang pilihan untuk mengisolasi diri. Ia tidak menyodorkan makanan ataupun barang demi membuat saya bungkam, dan tidak pernah mengeluhkan tabiat gejala-gejala kecemasan saya yang canggung. Ia hanya mengaitkan jemarinya dengan jemari saya, membiarkannya pasrah untuk digenggam dan dimainkan oleh tangan saya yang gelisah, lalu membiarkan saya ada sepenuhnya sebagai diri saya pada detik itu. Tak ada penghakiman, tak ada tuntutan penertiban, yang tertinggal hanya rasa dingin dan lembap dari keringat yang saling bertukar di dalam genggaman tangan kami.
Itu adalah tindakan yang persis sama dengan yang dilakukan Oma terhadap kucing-kucingnya. Beliau membiarkan raga-raga berbulu itu mengembara jauh ke dalam kedalaman malam dan melenggang pulang kapan pun mereka suka, menyodorkan suwiran ikan segar yang dikukus langsung di atas piring, tanpa kemudian menuntut sebaris pun balas budi atau kepatuhan. Ia adalah sebuah cara ada yang bersahaja, sejenis eksistensi yang tidak pelik. Dan mungkin, di tengah ingatan saya yang menyerupai lemari pakaian tua yang lapuk, momen-momen penerimaan tanpa syarat inilah satu-satunya barang yang tidak pernah kehilangan koordinat semulanya.